Survei Destinasi Pariwisata Berkelanjutan

Survei Destinasi Pariwisata Berkelanjutan

Survei Destinasi Pariwisata Berkelanjutan: Cara Menjaga Wisata Tetap Ramai Tanpa Mengorbankan Alam dan Warga Lokal

Banyak destinasi wisata punya mimpi yang sama: kunjungan naik, ekonomi bergerak, UMKM laku, dan nama daerah makin dikenal. Tapi setelah ramai, biasanya muncul “bonus” yang tidak selalu menyenangkan—macet di titik tertentu, sampah menumpuk di akhir pekan, keluhan warga soal kebisingan, sampai kualitas pengalaman wisatawan yang menurun karena antrean terlalu panjang.

Di titik ini, konsep pariwisata berkelanjutan bukan lagi jargon. Destinasi perlu cara kerja yang lebih rapi: ada perencanaan, ada pengelolaan, ada pemantauan, lalu dievaluasi secara berkala. Bahkan pada kerangka pengelolaan destinasi berkelanjutan, aspek seperti perencanaan, pengelolaan, pemantauan, dan evaluasi menjadi bagian penting dari pendekatan yang efektif. 

Masalahnya, banyak keputusan destinasi masih dibuat berdasarkan “katanya” dan “sepertinya”. Padahal, yang dibutuhkan adalah data yang bisa dipertanggungjawabkan. Salah satu cara paling praktis untuk mengumpulkan data itu adalah lewat Survei Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.

Apa itu Survei Destinasi Pariwisata Berkelanjutan?

Sederhananya, ini adalah survei yang membantu pengelola destinasi (pemda, BUMD/BUMDes, pengelola kawasan, atau DMO) memotret kondisi destinasi secara menyeluruh—bukan cuma soal ramai atau sepi.

Survei ini biasanya menilai hal-hal seperti:

  • seberapa baik tata kelola destinasi berjalan,
  • dampak ekonomi bagi masyarakat lokal,
  • pelestarian budaya dan kenyamanan sosial,
  • serta dampak terhadap lingkungan (air, energi, sampah, ekosistem, dan lain-lain).

Secara global, banyak kerangka penilaian destinasi berkelanjutan merujuk pada GSTC Destination Standard / Criteria yang mengelompokkan indikator pada tema besar seperti pengelolaan berkelanjutan, dampak sosial-ekonomi, dampak budaya, dan dampak lingkungan. (GSTC)

Kenapa destinasi perlu survei (bukan cuma “rekap kunjungan”)?

Jumlah kunjungan memang penting—tapi itu baru satu angka. Destinasi yang benar-benar sehat perlu tahu hal-hal lain yang sering tidak kelihatan di dashboard kunjungan, misalnya:

1) Suara warga lokal

Warga adalah “pemilik suasana” destinasi. Kalau warga mulai merasa terganggu, konflik kecil bisa membesar dan merusak citra destinasi.

2) Pengalaman wisatawan yang sebenarnya

Wisatawan bisa datang sekali, tapi tidak kembali kalau merasa destinasi tidak nyaman: toilet kurang, informasi membingungkan, akses sulit, atau harga tidak transparan.

3) Daya dukung dan isu lingkungan

Lonjakan pengunjung sering berdampak pada sampah, air bersih, kualitas pantai/sungai, sampai kerusakan jalur trekking. Ini tidak bisa dipantau hanya dengan hitung tiket.

Survei membantu destinasi punya “peta masalah” yang jelas: masalahnya ada di mana, siapa yang paling terdampak, dan perbaikan apa yang paling cepat terasa hasilnya.

Apa saja yang idealnya diukur?

Agar tidak melebar, biasanya survei disusun berdasarkan pilar/tema yang terstruktur. Kalau Anda ingin kerangka yang mudah dipahami, Anda bisa memakai pembagian yang sejalan dengan tema besar pada standar destinasi berkelanjutan (seperti GSTC), misalnya: 

A. Pengelolaan destinasi

  • Kejelasan aturan, informasi, dan tata kelola
  • Kolaborasi antar pemangku kepentingan (pengelola–pemda–pelaku usaha–komunitas)
  • Kesiapan mitigasi risiko (cuaca ekstrem, keselamatan wisatawan, kepadatan)

B. Dampak sosial–ekonomi

  • Peluang kerja untuk warga lokal
  • UMKM lokal benar-benar kebagian manfaat
  • Keadilan harga (tidak “jebakan turis”), transparansi biaya

C. Dampak budaya

  • Pelestarian tradisi dan situs budaya
  • Etika wisatawan (misalnya berpakaian/bersikap sesuai konteks)
  • Kegiatan wisata tidak mengganggu kehidupan sosial setempat

D. Dampak lingkungan

  • Pengelolaan sampah dan kebersihan
  • Pengurangan plastik sekali pakai
  • Konservasi air, energi, dan perlindungan ekosistem

Siapa yang perlu jadi responden survei?

Survei destinasi akan lebih “kena” kalau Anda mengambil perspektif dari beberapa kelompok sekaligus:

  • Wisatawan (domestik/mancanegara, first-timer vs repeat visitor)
  • Warga lokal (yang tinggal di sekitar kawasan)
  • Pelaku usaha (homestay/hotel, warung, pemandu, operator wisata)
  • Pengelola/petugas lapangan (kebersihan, keamanan, tiket, informasi)

Kuncinya bukan banyak-banyakan responden, tapi respondennya tepat dan pertanyaannya relevan.

Contoh pertanyaan yang “ngena” untuk destinasi

Berikut contoh pertanyaan yang sering menghasilkan insight nyata (silakan sesuaikan dengan karakter destinasi Anda):

Untuk wisatawan

  1. Informasi destinasi (akses, jam buka, harga, aturan) mudah ditemukan dan jelas.
  2. Fasilitas dasar (toilet, tempat sampah, area istirahat) memadai.
  3. Saya merasa aman dan nyaman selama berkunjung.
  4. Destinasi terasa terawat dan bersih.
  5. Saya bersedia merekomendasikan destinasi ini kepada orang lain (model NPS).

Untuk warga lokal

  1. Pariwisata di sini memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
  2. Aktivitas wisata tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.
  3. Warga dilibatkan/dimintai masukan dalam pengelolaan destinasi.
  4. Sampah/keramaian masih dalam batas yang bisa diterima.

Untuk pelaku usaha

  1. Ada dukungan nyata untuk usaha lokal (promosi, pelatihan, event, kurasi produk).
  2. Aturan dan retribusi jelas serta konsisten.
  3. Kolaborasi pengelola–pelaku usaha berjalan baik.

Cara menjalankan survei agar hasilnya bisa dipakai ambil keputusan

Yang sering terjadi: survei sudah dibuat, respon masuk, lalu berhenti jadi angka. Supaya tidak begitu, alur yang lebih efektif biasanya seperti ini:

  1. Tentukan tujuan sejak awal

    Contoh: “memetakan masalah kebersihan di high season” atau “menilai kesiapan destinasi sebelum event besar”.

  2. Pilih momen sebar yang tepat

    Survei untuk wisatawan paling efektif dilakukan saat/tepat setelah kunjungan (QR di pintu keluar, tautan setelah pembelian tiket, dsb.).

  3. Jaga kualitas data

    Survei online rawan respons duplikat atau asal klik. Kalau Anda punya fitur deteksi anomali dan kontrol distribusi, kualitas data biasanya jauh lebih rapi. (Contoh fitur seperti anomaly detection, geolocation tracking, distribusi multi-kanal).

  4. Ubah hasil jadi rencana aksi

    Pisahkan rekomendasi jadi:

  • Quick wins (1–4 minggu): tambah signage, perbaiki toilet, titik sampah, jalur antre.
  • Menengah (1–3 bulan): penataan pedagang, alur parkir, SOP petugas.
  • Panjang (6–12 bulan): manajemen daya dukung, transportasi kawasan, kebijakan pengurangan sampah.

Kenapa survei ini membantu reputasi destinasi?

Destinasi yang punya data dan evaluasi rutin akan lebih mudah:

  • menyusun program perbaikan yang terukur,
  • menjelaskan kebijakan kepada warga dan pelaku usaha,
  • dan menunjukkan keseriusan menjaga lingkungan dan budaya.

Di banyak standar/kerangka pengelolaan destinasi berkelanjutan, prinsipnya sama: ada tata kelola, ada dampak yang dipantau, lalu diperbaiki secara konsisten.

Jalankan Survei Destinasi Pariwisata Berkelanjutan lebih praktis dengan SurveiKu

Jika Anda ingin menjalankan survei ini tanpa ribet—mulai dari penyusunan, distribusi, sampai pelaporan—SurveiKu menyediakan layanan Survei Destinasi Pariwisata Berkelanjutan dan mencantumkan kesesuaian dengan Permen Parekraf No. 9 Tahun 2021 pada daftar layanannya. 

Dari sisi operasional, SurveiKu juga menonjolkan fitur yang relevan untuk kerja survei lapangan dan pengolahan data, seperti:

  • Multi-Channel Survey Distribution, Geolocation Tracking, dan Survey Anomaly Detection
  • PDF & Word Report Generator (format laporan) dan Data Export

 

Destinasi yang berkelanjutan bukan destinasi yang “tidak boleh ramai”, tetapi destinasi yang ramai dengan terkelola: warga tetap nyaman, wisatawan tetap puas, budaya tetap dihormati, dan lingkungan tidak jadi korban.

Kalau Anda ingin menjalankan Survei Destinasi Pariwisata Berkelanjutan dengan proses yang lebih cepat, rapi, dan mudah dipantau, gunakan layanan terkait di SurveiKu dan berlangganan aplikasi SurveiKu agar pengumpulan data, analisis, hingga laporan bisa berjalan lebih efisien dari waktu ke waktu.

Views: 1006