Sampling Jenuh

Views: 57
Sampling Jenuh

Apa Itu Sampling Jenuh?

Dalam kegiatan penelitian tentunya peneliti akan menentukan populasi diikuti penentuan sampel. Ada banyak teknik bisa dipilih oleh peneliti dalam menentukan sampel tersebut. Tentunya disesuaikan kondisi dan kebutuhan penelitian.

Salah satu tekniknya adalah sampling jenuh. Sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel di mana seluruh anggota populasi digunakan sebagai sampel penelitian. Kenapa menggunakan kosakata “jenuh”? Dalam konteks sampel jenuh, penggunaan kosakata ini untuk menunjukan penelitian ada di titik jenuh. Kondisi ini terjadi karena peneliti menggunakan seluruh individu pada populasi sebagai subjek penelitian.

Sehingga peneliti menggunakan seluruh elemen, baik itu informasi dan elemen lain dari seluruh populasi. Kondisi seperti ini membuat peneliti tidak perlu memilih sampel dan menyisakan individu dalam populasi yang tidak terpilih sebagai sampel. Teknik sampling satu ini tidak selalu cocok diterapkan ke semua penelitian. Sebab, ada kalanya peneliti melakukan teknik sampling untuk mendapatkan jumlah sampel lebih terbatas. Sehingga bisa meningkatkan efisiensi waktu, tenaga, dan biaya.

Perbedaan Total Sampling dan Sampling Jenuh

Jika membahas mengenai sampling jenuh maka biasanya akan dikaitkan dengan total sampling. Apakah keduanya sama? Jawabannya tidak, sebab keduanya adalah teknik dalam menentukan sampel pada penelitian. Sehingga ada perbedaan.

Keduanya sering disamakan karena sama-sama menjadikan seluruh individu dalam populasi sebagai sampel. Namun, ketika dipelajari secara mendalam maka akan dijumpai beberapa perbedaan. Diantaranya adalah:

  1. Jenis Penelitian
    Secara mendasar, jenis dari penelitian terbagi menjadi penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Pada keduanya, ada beberapa penggunaan istilah yang berbeda. Termasuk istilah dalam penentuan sampel penelitian. Istilah sampel jenuh lebih umum digunakan dalam kualitatif. Sebaliknya, istilah total sampling lebih umum digunakan dalam penelitian kuantitatif. Meskipun begitu, terdapat juga peneliti yang menggunakan keduanya pada apapun jenis penelitian yang dilakukan.
  2. Skala Populasi
    Sesuai penjelasan sebelumnya, teknik sampling jenuh diterapkan untuk populasi skala kecil. Yakni yang jumlah individu di dalamnya 100 orang atau di bawahnya. Sementara untuk teknik total sampling bisa diterapkan pada populasi skala kecil maupun skala besar. Namun, penggunaan teknik ini disesuaikan dengan kemampuan peneliti dan sumber daya yang dimiliki. Sekalipun peneliti melakukan penelitian kuantitatif. Seringkali terbentur dengan minimnya sumber daya, misalnya pendanaan. Sehingga teknik total sampling sulit untuk dilakukan atau diterapkan jika populasi penelitian skala besar.
  3. Tujuan
    Penerapan sampel jenuh dalam penelitian yang populasinya skala kecil menjadi solusi mencegah subjektivitas dalam pemilihan sampel. Sehingga peneliti menjadikan seluruh individu pada populasi sebagai sampel tanpa terkecuali. Sementara pada teknik total sampling, biasanya diterapkan dengan tujuan memudahkan olah data statistik. Sehingga data numerik (dalam bentuk angka) bisa dihitung dengan mudah dan hasilnya lebih akurat. Perhitungan statistik ini misalnya ketika peneliti perlu menghitung rata-rata (mean), median, modus, standar deviasi, dan persentase. Jika seluruh populasi dijadikan sampel, maka perhitungan statistik tersebut jauh lebih akurat. Hal ini bisa menurunkan resiko bias pada data penelitian.

Teknik Sampling Jenuh

Berikut adalah beberapa tahapan yang perlu dilalui peneliti ketika menerapkan teknik sampel jenuh ini:

  1. Menentukan Populasi Penelitian
    Tahapan ini akan dilalui peneliti ketika memakai teknik sampling apapun. Sebab populasi yang dipilih akan ikut menentukan teknik sampling mana yang tepat digunakan.
  2. Memastikan Memenuhi Karakteristik Sampel Jenuh
    Memastikan populasi yang dipilih memenuhi karakteristik sampel jenuh itu sendiri. Seperti yang dijelaskan, sampel jenuh hanya cocok untuk populasi skala kecil. Yakni populasi yang jumlah individu di dalamnya tidak melebihi 100 orang. Semakin kecil, di bawah 100, maka semakin baik. Selain itu, terdapat karakteristik lain yang juga harus diperhatikan. Seperti akses kepada populasi. Artinya, peneliti memiliki kemudahan akses pada seluruh populasi tersebut. Sehingga memudahkan pengambilan data tanpa perlu melakukan pengorbanan berarti. Entah itu jarak berdekatan, komunikasi dua arah bisa berjalan, dan sebagainya.
  3. Menentukan dan Menyiapkan Teknik Pengumpulan Data
    Menyiapkan dan menentukan teknik pengumpulan data. Pengumpulan data bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari pengamatan langsung di lokasi, membagikan kuesioner, melakukan wawancara, dan sebagainya. Setiap teknik pengumpulan data bisa dipilih untuk disesuaikan kondisi dan kebutuhan penelitian. Oleh sebab itu, perlu ditentukan lebih dulu idealnya memakai teknik apa. Setelah teknik pengumpulan data sudah ditentukan, barulah menyiapkan instrumen yang sesuai. Misalnya, jika memilih teknik wawancara maka peneliti bisa menyiapkan daftar pertanyaan, peralatan untuk dokumentasi, mengatur jadwal wawancara dengan sampel penelitian, dan sebagainya.
  4. Melakukan Pengumpulan Data
    Berhubung semua individu dalam populasi menjadi sampel. Maka pengumpulan data perlu dilakukan dengan cermat. Sehingga semua sampel bisa menjadi sumber data di hari H pengumpulan data. Misalnya, jika melakukan wawancara. Maka hitung kebutuhan durasi wawancara per sampel. Kemudian tentukan butuh berapa jam atau berapa hari sampai seluruh sampel bisa dilakukan wawancara. Contoh lain, jika pengumpulan data dengan membagikan kuesioner. Maka tentukan akan dibagikan di platform mana. Jika kuesioner dicetak, maka jumlahnya disesuaikan dengan jumlah sampel. Sehingga pengambilan data lancar.
  5. Menganalisis Data Penelitian
    Ada banyak teknik analisis data yang bisa dipilih oleh peneliti. Sehingga perlu ditentukan dengan menyesuaikan karakteristik data. Apakah data kualitatif atau kuantitatif? Selanjutnya, analisis data juga bisa dilakukan secara manual maupun memanfaatkan teknologi. Jika menggunakan suatu tools atau platform, maka bisa ditentukan platform mana yang akan digunakan. Pastikan mudah dan bisa digunakan untuk kemudahan proses analisis.
  6. Menarik Kesimpulan
    Hasil dari analisis data penelitian adalah kesimpulan. Kesimpulan disini tentu saja menjadi hasil penelitian yang menjadi tujuan akhir. Setelah menarik kesimpulan, maka tinggal disampaikan di dalam laporan penelitian dan luaran yang ingin dicapai. Jika luaran dalam bentuk publikasi artikel di jurnal internasional. Maka ada pembahasan terkait kesimpulan atau hasil penelitian di dalamnya.